Paradoks Bali:
Bali dikenal sebagai surga dunia—indah, sakral, mempesona. Tapi bagaimana jika di balik keindahannya, pulau ini sedang lelah? Paradoks Bali mengajak pembaca menyelami sisi Bali yang jarang terlihat: rumah bagi manusia, bukan sekadar panggung wisata. Tentang tradisi yang berjuang bertahan, tanah yang berubah makna, spiritualitas yang berdampingan dengan kapital, dan masyarakat lokal yang hidup di tengah tuntutan global. Ditulis dengan bahasa reflektif, hangat, dan jujur, buku ini bukan tentang menghakimi Bali—melainkan memahami. Sebuah perjalanan batin, sosial, dan kemanusiaan yang akan membuat pembaca bukan hanya melihat Bali… tapi merasakannya.
Siswo Susetyo – Ketua Pengurus Cabang Muhammadiyah Kuta Selatan
Di akhir buku, saya tidak menemukan jawaban yang mutlak, tetapi menemukan pertanyaan yang jauh lebih penting: bagaimana kita bisa tetap menjadi manusia yang sadar di tanah yang kita pijak, sebuah undangan bagi siapa pun yang mencintai Bali untuk berdialog, bukan sekadar menuntut atau menikmati.
DR. CUK TARUNA HENDRAJAYA SE, MM/ Wakil Rektor Bali Internasional Muhammadiyah University
Penulisan dari sang penulis sangat rapi runtut dan jujur dalam memaknai nafas kehidupan pulau dewata, keresahan dan kekaguman yg menjadi satu layaknya simbol yin yang dari tradisi cina atau seperti dua muka koin mata uang, dimana kehidupan dipandang selalu ada yg terbaik dan terburuk menjadi sebuah paradoks kehidupan
Riad Amir / Branding Consultant
Penulis menyampaikan nya langsung dari hati nurani yang paling dalam sebagai orang yang lahir dan besar, hidup di bali yang bertumbuh dengan keragaman budaya dan khawatir bahwa nilai budaya yang begitu agung pelan-pelan di tinggalkan tertutup oleh globalisasi yang sesungguhnya jauh dari keindahan adab asli yang sebenarnya merupakan magnet kuat kehadiran begitu banyak nya wisatawan dari berbagai belahan dunia











Reviews
There are no reviews yet.