I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa bukan sekadar nama dalam ingatan lokal. Ia adalah simbol perlawanan, kepemimpinan, dan harga diri sebuah negeri kecil yang menolak tunduk pada kekuatan imperium.
Di awal abad ke-19, ketika Inggris dan Belanda saling berebut pengaruh di Sulawesi Selatan, Bontoa berdiri di persimpangan sejarah. Di bawah kepemimpinan I Pandima, negeri ini dibangun dengan semangat reformasi: membuka lahan baru, menata pemerintahan adat, dan menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai fondasi kekuasaan. Namun kejayaan itu segera diuji ketika imperialisme datang membawa senjata, tipu daya diplomasi, dan pengkhianatan dari dalam istana sendiri.
Buku ini mengisahkan perjalanan seorang Karaeng yang memilih melawan, meski tahu risikonya adalah kehilangan takhta, kebebasan, bahkan nyawa. Dari pertempuran di Marana, strategi perang gerilya, hingga tragedi pengkhianatan yang meruntuhkan Bontoa, kisah ini memperlihatkan bahwa sejarah tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang kuat, tetapi oleh mereka yang berani menjaga kehormatan.
Ditulis dengan pendekatan historiografis lokal dan narasi yang hidup, buku ini menghadirkan kembali satu bab penting sejarah Sulawesi Selatan—tentang keberanian melawan imperialisme, tentang kekuasaan yang rapuh tanpa legitimasi rakyat, dan tentang api perlawanan yang tak pernah benar-benar padam.
Sebuah kisah tentang kepemimpinan, pengorbanan, dan martabat yang bertahan melampaui kekalahan.
I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa: Melawan Imperialisme
Brand :
Rp68.000
- Pertama terbit 2026
- Hak Cipta Andi Fahri Makkasau
1 in stock
| Weight | 200 g |
|---|
Only logged in customers who have purchased this product may leave a review.
Vendor Information
- Address:
- No ratings found yet!












Reviews
There are no reviews yet.