Urbanitas Liar: Signifikansi Daulat Subjektif di Tengah Rezim Perencanaan
Apakah kota benar-benar dibangun untuk manusia? Atau manusia hanya menyesuaikan diri pada garis-garis yang telah ditarik di atas peta?
Buku ini menggugat cara kita memahami perencanaan kota. Ia menyingkap bagaimana blueprint, estetika keteraturan, dan logika teknokratis kerap mengabaikan denyut kehidupan yang sesungguhnya. Di balik beton dan regulasi, selalu ada naluri, siasat, dan kreativitas warga yang tidak pernah sepenuhnya bisa dijinakkan.
Melalui perpaduan tajam antara Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dan antropologi urban, buku ini menghadirkan gagasan tentang urbanitas liar—sebuah pengakuan bahwa kehidupan kota tumbuh secara organik, tidak selalu patuh pada desain, dan justru di situlah vitalitasnya berada. Dari trotoar hingga ruang informal, dari subjektivitas warga hingga politik ruang publik, pembaca diajak melihat kota sebagai arena negosiasi, perlawanan halus, dan harapan kolektif.
Ini bukan sekadar kritik terhadap sistem perencanaan. Ini adalah manifesto. Sebuah ajakan untuk merawat kota dengan empati, membangun dengan kesadaran etis, dan mengakui bahwa kedaulatan naluri adalah fondasi bagi kota yang benar-benar hidup.
Bagi akademisi, perencana, mahasiswa, dan siapa pun yang peduli pada masa depan kota, buku ini menawarkan perspektif yang berani, reflektif, dan membumi.
Karena pada akhirnya, kota yang berhasil bukan yang paling rapi—melainkan yang paling manusiawi.












Reviews
There are no reviews yet.