Terluka Tanpa Luka:
Di sebuah ruang yang seharusnya penuh makna dan keteladanan, ada luka-luka yang tak pernah terlihat. Bukan bentakan. Bukan hinaan yang terdengar keras. Melainkan diam yang menyisihkan, tatapan yang menghakimi, dan sikap yang perlahan membuat seseorang merasa… tidak pernah benar-benar ada. Ia datang dengan harapan. Dengan semangat untuk memberi, untuk tumbuh, untuk menjadi bagian. Namun hari demi hari, yang ia temukan bukanlah penerimaan melainkan jarak yang tak kasat mata. Ide-idenya menguap di ruang rapat, suaranya tenggelam di antara percakapan yang tak pernah benar-benar membutuhkannya, dan keberadaannya seakan hanya pelengkap yang bisa diabaikan kapan saja. Perundungan tidak selalu meninggalkan memar di tubuh. Kadang, ia memilih tinggal di dalam pikiran menggerogoti perlahan, meragukan nilai diri, dan mematikan keberanian.
Buku ini bukan sekadar cerita tentang terluka. Ia adalah cermin—tentang bagaimana kita memperlakukan sesama, sering kali tanpa sadar. Tentang budaya yang dibiarkan tumbuh diam-diam. Tentang pilihan: untuk tetap menjadi bagian dari masalah, atau berani menjadi awal perubahan. Karena di balik setiap diam yang panjang, selalu ada satu pertanyaan yang menggantung: “Apakah aku benar-benar tidak berarti, atau hanya tidak pernah diberi ruang untuk berarti?”








Reviews
There are no reviews yet.