Syahadat yang Didustakan:
Dalam sebuah kampung yang akrab dengan tradisi dan desas desus, Budi hidup di antara cinta, rasa bersalah, dan rahasia yang terus membesar. Ketika pengakuan iman yang seharusnya menjadi sakral berubah menjadi topeng untuk menyelamatkan harga diri atau menutupi kesalahan, runtuhlan kepercayaan yang selama ini jadi pondasi rumah tangga dan persahabatan.
Peristiwa sehari hari kecil seperti pertemuan di sungai, malam tanpa tidur, dan kata kata yang terlontar di saat duka membuka lapisan lapisan luka lama, memperlihatkan bagaimana kebohongan merembes ke seluruh hubungan dan memaksa setiap tokoh memilih antara membela ego atau menanggung konsekuensi kebenaran. Dengan bahasa yang humanis dan pengamatan detail pada emosi, novel ini menelusuri proses penebusan, kehancuran, dan kemungkinan maaf yang tidak mudah, sambil menantang pembaca untuk menimbang kembali arti iman, tanggung jawab, dan kemanusiaan.











Reviews
There are no reviews yet.