Perpajakan Preferensial Indonesia: Rasio pajak Indonesia yang stagnan di kisaran 10% dari PDB bukan sekadar soal angka. Di baliknya tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa negara dengan kompleksitas ekonomi sebesar Indonesia memilih untuk merancang begitu banyak pengecualian, tarif khusus, dan rezim sektoral yang menyimpang dari ketentuan umum perpajakan? Buku ini mengurai pertanyaan tersebut secara sistematis dan kritis.
Penulis membangun argumennya di atas dua pendekatan yang saling melengkapi: analisis yuridis normatif yang menelaah hierarki regulasi dan konsistensi konstitusional, serta analisis ekonomi atas hukum yang menguji apakah setiap instrumen benar-benar mengubah perilaku investasi atau sekadar mengalirkan subsidi kepada pihak yang sudah pasti akan bertindak. Ketegangan antara kedua pendekatan ini menjadi benang merah yang menghubungkan 25 bab dalam tujuh bagian buku ini.
Cakupan sektoralnya sangat luas: mulai dari rezim PPh Final untuk UMKM dan jasa konstruksi, kontrak bagi hasil hulu minyak dan gas bumi, fasilitas Kawasan Ekonomi Khusus dan Ibu Kota Nusantara, hingga pemajakan ekonomi digital dan aset kripto. Setiap bab tidak hanya berhenti pada deskripsi aturan, melainkan melangkah ke ranah evaluasi: apakah instrumen yang ada konsisten dengan asas keadilan horizontal dan vertikal, serta apakah tujuan kebijakan yang dideklarasikan benar-benar tercapai secara terukur.
Konteks internasional juga mendapat perhatian yang proporsional. Implementasi Pajak Minimum Global Pilar Dua melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 136 Tahun 2024 secara fundamental mengubah efektivitas tax holiday bagi grup multinasional besar. Oleh karena itu, buku ini menganalisis implikasinya secara mendalam beserta arah reformulasi yang diperlukan.
Buku ini relevan bagi akademisi, praktisi perpajakan, perumus kebijakan, maupun investor yang ingin memahami arsitektur insentif fiskal Indonesia. Pemahaman ini tidak hanya mencakup sebagaimana aturan tersebut tertulis dalam regulasi, tetapi juga sebagaimana instrumen itu bekerja dalam realitas ekonomi yang terus berubah.








Reviews
There are no reviews yet.