Minoritas yang Terbuang:
“Apakah darah yang tumpah untuk tanah air memiliki warna yang berbeda jika matamu sipit?”
Ini bukan sekadar cerita tentang perang atau politik. Ini adalah detak jantung seorang pria yang bertarung dengan identitasnya, yang dipaksa menjadi asing di atas tanah kelahirannya sendiri. Melintasi tiga fragmen zaman yang beringas—dari cengkeraman kolonial Belanda, kegelapan fasisme Jepang, hingga gempita Reformasi yang berlumur api—Imung Sian terus mencari jawaban atas satu pertanyaan sederhana: Kapan aku boleh berhenti menjadi pelarian?
Diiringi deru arus Sungai Cisadane yang menyimpan ribuan rahasia dan gema azan yang membelah kesunyian pedalaman Banten, Minoritas yang Terbuang adalah sebuah surat cinta yang pedih namun tulus untuk Indonesia—sebuah negeri yang sering kali menderita amnesia kolektif, melupakan mereka yang justru paling gigih menjaganya.









Reviews
There are no reviews yet.