Matahari pun Tergelincir: Sidak di kantor Kemenag ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Semua karyawan pulang. Motor Bajang Syam melesat di jalanan. Hanya lima belas menit waktu yang dibutuhkan, dia sudah sampai di kediaman. Perut yang keroncongan melecutnya untuk menikmati ares yang mesti sudah disiapkan.
Bajang Syam tiba di rumah sepuluh menit setelah azan asyar dikumandangkan. Dia memarkirkan honda beat-nya di samping jendela. Ia memberi salam lalu melepas helm di meja kayu di ruang tamu. Salam tidak berjawab. Namun, Bajang Syam melaju masuk rumah. Isi rumah sepi. Ketiga anaknya sedang asyik bermain di rumah tetangga. Bajang Syam memanggil-manggil istrinya.
Panggilan berulang tidak berjawab. Rumah sepi seperti tidak berpenghuni. Istri Bajang Syam tidak menyahuti. Apakah dia ngambek dan kesal hati?
Bajang Syam masuk ke ruang salat. Di ruang salat dia menemukan istrinya tengah khusyuk bermunajat, merafalkan doa, seusai salat asyar ditunaikan. Istrinya masih mengenakan mukena putih bersih yang dibeli dua hari yang lalu. Mukena ditangkupkan ke atas kepala hingga menutup wajah. Bajang Syam memegang dan menggoyang-goyangkan kepala istrinya.
Bajang Syam melepas bajunya. Dia masuk ke kamar hendak menggantung baju di belakang daun pintu. Dia terperanjat. Di atas dipan dia melihat istrinya sedang terlelap. Bajang Syam segera melesat ke ruang salat, ingin mengecek siapa perempuan yang dia goyang kepalanya berulang-ulang. Di ruang salat dia temukan ibu mertuanya sedang melepas mukena yang menutup seluruh wajahnya.
Bajang Syam bersimpuh di depan perempuan sepuh itu, seraya memohon maaf atas segala khilaf yang tidak disengaja.
Demikianlah nukilan kisah fiksi Matahari pun Tergelincir yang menjadi judul buku ini. Bagaimanakah kisah-kisah lainnya? Para pembaca yang budiman disilakan mendaras semua cerita yang twist ending ini. Selamat menikmati!

Reviews
There are no reviews yet.