La Surullah Daeng Palopo:
Di Marusu, kehormatan tidak pernah diajarkan untuk disimpan—
ia diajarkan untuk dipertahankan.
Ketika kekuasaan kolonial mulai menata ulang negeri-negeri kecil di Sulawesi Selatan dengan bahasa ketertiban dan hukum, Marusu berdiri di persimpangan sejarah. Musyawarah adat dipaksa berhadapan dengan ultimatum, dan diplomasi berubah menjadi penghinaan yang terencana.
Di tengah ketegangan itu berdirilah La Surullah Daeng Palopo, Petta Lopo—Sulewatang Marusu, bangsawan tinggi, pewaris darah pejuang, sekaligus penjaga marwah kerajaan. Ia bukan pemberontak tanpa perhitungan, bukan pula pahlawan yang mencari kematian. Ia adalah lelaki yang dipaksa memilih ketika seluruh saluran adat ditutup secara sadar.
Satu tikaman di balairung istana mengubah segalanya.
Perang Camba-camba pun pecah—bukan sebagai kisah kemenangan, melainkan sebagai tragedi kolektif: tentang ketimpangan kekuatan, penderitaan rakyat, pengasingan, dan upaya penjajahan untuk mematahkan makna melalui pemenggalan simbolik. Namun di balik kekalahan, Marusu menyimpan sesuatu yang tidak dapat dirampas: ingatan.
Ditulis dengan pendekatan historiografis-sastra, novel ini menghadirkan sejarah dari sudut pandang yang jarang diberi ruang—suara bangsawan lokal, rakyat kecil, dan adat yang berusaha bertahan di tengah dunia yang berubah paksa.
Ini bukan kisah tentang menang atau kalah. Ini adalah kisah tentang marwah yang tidak pernah tumbang, meski tubuh dapat dijatuhkan dan negeri dipaksa diam.











Reviews
There are no reviews yet.