Di Bawah Langit Rinjani: Langkah pertama telah dilewati, keluar dari gerbang pondok dengan ragu dan penasaran, meraba dunia yang tiba-tiba luas. Dalam buku sebelumnya, Langkah Pertama Setelah Gerbang, kita belajar bahwa kebebasan tidak selalu mudah, kesalahan kecil selalu ada, dan kawan lama kadang hadir hanya sebentar untuk mengingatkan kita akan kenyamanan yang pernah ada. Semua itu adalah latihan batin, persiapan tanpa henti untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar, yang menunggu di ujung perjalanan.
Kini, di bawah langit Rinjani, setiap langkah terasa berbeda. Medan yang keras, hujan, angin, dan kesendirian menjadi guru yang tak terlihat namun tegas. Protagonis berjalan dengan ransel yang kini pantas dipikul; bukan sekadar barang, tapi simbol pengalaman, keberanian, dan pelajaran yang terkumpul dari perjalanan sebelumnya. Kawan lama hadir sesekali, memberi tawa, pengingat, dan rasa hangat, sebelum langkah harus diteruskan sendiri.
Perjalanan ini bukan hanya tentang puncak yang nyata, jalur yang menantang, atau alam yang memukau. Ia tentang batin yang perlahan menemukan ritme, tentang kesendirian yang menenangkan, dan tentang keberanian untuk tetap melangkah meski arah belum pasti. Setiap cerita, setiap kesalahan, setiap pertemuan singkat adalah bagian dari ransel pengalaman itu; yang kini harus dibawa seorang diri, di bawah langit yang luas dan diam.
Semoga pembaca menapaki setiap halaman seperti menapaki setiap langkah: dengan hati terbuka, mata yang waspada, dan rasa kagum yang sederhana terhadap dunia, terhadap diri, dan terhadap perjalanan yang tak pernah benar-benar selesai.













Reviews
There are no reviews yet.