Sinopsis
Bagaimana rasanya memiliki Papah? Bagaimana rasanya dipeluk olehnya? Bagaimana nikmat bermain bersamanya? Kerap kali melihat lelaki aku selalu membayangkan duduk di pangkuannya sambil bermain kemudian memeluknya. Papahku pasti lelaki tampan, buktinya hidungku mancung, mataku bulat dan rambutku hitam seperti malam. Aku tak mengenal Papahku. Tapi melalui nafkah yang dia berikan setiap bulannya aku merindukannya. Sampai suatu hari Tuhan mempertemukanku dengannya. Cintaku langsung tumbuh padanya, bukan cinta biasa dari anak kepada orang tua. Tapi cinta gadis biasa pada lelaki dewasa.